Hari Lahirnya Pelopor Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer

10.43


Pramoedya adalah seorang sastrawan yang dilahirkan di Blora pada tahun 1925 di jantung Pulau Jawa di sebelah timur Pulau Sumatera. Beliau adalah anak sulung dari seorang ayah yang berprofesi sebagai  guru. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Beliau menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Beliau pernah mengikuti pasukan militer pada masa kemerdekaan indonesia. Sepanjang karir militernya dia banyak menulis mengenai kehidupan pada masa-masa karir militernya. Beliau juga pernah tinggal di Belanda untuk pertukaran budaya dan kembali lagi ke Indonesia sebagai lekra yaitu salah satu organisasi sayap kiri Indonesia. Pada masa itu, Beliau mulai memepelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia dan berhubungan erat dengan penulis di Tiongkok. Beliau juga pernah mengusulkan bahwa pemerintahan harus dipindahkan ke daerah luar pulau Jawa. Beliau juga pernah di tahan tanpa proses pengadilan di Nusakambangan pasa saat pemerintahan Soeharto karena pandangannya yang pro-komunis Tiongkok dan bukunya juga dilarang diperedaran. 

Setelah Beliau dibebaskan dan tidak terbukti akan terlibatnya pada gerakan 30 september, masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, hingga wajib lapor selama kurang lebih 2 tahun. pada masa itu, Beliau menulis novel semi-fiksi yang berjudul Gadis Pantai berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Lalu menulis otobiografi yang berjudul Nanyi Sunyi Seorang Bisu yang diterjemahkan dalam bahasa inggris oleh Willem Samuels dam diterbitkan oleh Hasta Mitra dengan judul The Mute's Soliloguy: A Memoir. Beliau juga menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana Beliau menggambar pengalamannya sendiri.

Beliau juga mendapat beberapa penghargaan diantaranya:


  • Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. 
  • Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000
  • pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia.
  • Menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
  • dll

Ada lebih dari 200 buku karya Beliau yang diterjemahkan ke dalam bahasa dunia. Beliau adalah sastrawan sejati yang sampai akhir hayatnyapun Beliau masih aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usia lanjut. Beliau juga menderita penyakit Diabetes, sesak napas, dan jantungnya melemah, sehingga Beliau dirawat di Rumah sakit di Bogor.  Pada akhirnya Beliau meninggal pada 27 april 2006 akibat radang paru-paru dan komplikasi, dan dikebumikan TPU Karet Bivak. Berikut ini adalah karya sastra Pramoedya:

  • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947 [1]
  • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi
  • Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949 (dicekal oleh pemerintah karena muatan komunisme)
  • Keluarga Gerilya (1950)
  • Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen
  • Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen
  • Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951)
  • Bukan Pasar Malam (1951)
  • Di Tepi Kali Bekasi (1951), dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947
  • Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen
  • Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953
  • Gulat di Jakarta (1953)
  • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954)
  • Korupsi (1954)
  • Mari Mengarang (1954), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
  • Cerita Dari Jakarta (1957)
  • Cerita Calon Arang (1957)
  • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958)
  • Panggil Aku Kartini Saja (I & II, 1963; bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Gadis Pantai (1962-65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama triologi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987; dilarang Jaksa Agung; jilid kedua dan ketiga dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963)
  • Lentera (1965), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
  • Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981
  • Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981
  • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981)
  • Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia
  • Jejak Langkah (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
  • Sang Pemula (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
  • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung, 1987
  • Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988
  • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
  • Arus Balik (1995)
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997)
  • Arok Dedes (1999)
  • Mangir (2000)
  • Larasati (2000)
  • Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)
sumber:wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.