Jika Kamu Sayang Anak, 4 Hal ini Harus Kamu Lakukan!

10.15
Selama masih muda pasti yang dipikirkan hanya sekolah dan mau jadi apa ketika lulus sekolah nanti. Setelah lulus sekolah pun tujuannya ingin cepat-cepat dapat pekerjaan dan ingin menikah. Selama masih single dan menjadi seorang karyawan memang berbeda dengan kehidupan bagi yang sudah berkeluarga. Hanya tinggal mencukupi kebutuhan diri sendiri dan membantu sebagian beban ekonomi keluarga membuat saya merasa belum puas dengan apa yang bisa saya raih saat ini. Melihat teman-teman saya yang sudah menikah dan memiliki momongan membuat saya berpikir bagaimana saya ketika sudah menikah nanti. Meskipun masih dalam status jomblo, rasanya hati ini belum siap jika harus membangun keluarga apalagi mengurus anak jika sudah punya anak nanti. Melihat temanku sendiri sungguh benar-benar perjuangan, diusia yang masih muda harus melahirkan dan mengasuh anak yang capeknya luar biasa. Ibu saya pun melahirkan saya yang merupakan anak ke 7 dari 7 bersaudara. Hebat, kan? Banyak yang mengatakan kalau "Nikah itu enak", padahal tidak seenak apa yang saya dengar dari mereka yang sudah berkeluarga. Menikah itu perlu perencanaan dan banyak hal yang perlu dipikirkan ke depannya. Bukan berarti perencanaan itu menghambat jalan menuju menikah tapi dengan perencanaan kita bisa tahu seberapa siap kah kita menikah.

Tidak hanya soal materi atau biaya pernikahan saja tapi perencanaan bagaimana ketika sudah memiliki buah hati. Banyak orang juga bilang "banyak anak berarti banyak rezeki" dan saya pun mengiyakannya. Namun, dengan memiliki banyak anak bukan berarti kita lepas tangan saja. Kita perlu memikirkan bagaimana pertumbuhannya dan sudah siapkah mencukupi masa pendidikannya nanti. Pendidikan adalah salah satu indikator penting supaya anak bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak nantinya. Tentunya kita tidak mau kalau anak-anak kita nanti terbebani dengan masalah orangtuanya.
Kalau kamu tidak ingin menyusahkan anak saat sudah memiliki keluarga kecil nanti, berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan.


Cek Kesehatan secara berkala



Kolestrol, Diabetes, bahkan Kanker  yang bisa menyerang siapa saja bagi yang sudah berusia 20 sampai 30 tahunan. Jika saat masih muda kurang menjaga pola makan yang sehat dan banyaknya mengkonsumsi fast food tak menutup kemungkinan penyakit itu akan menggerogoti tubuh kita. Penyakit itu memang selalu datang tapi kita bisa mencegahnya dengan mengubah pola hidup,  berolahraga, dan mengecek kondisi kesehatan secara berkala. Sebelum menikah pun sama, cek kesehatan sangat diperlukan. Tentunya kita tidak ingin membebani keluarga, suami, bahkan anak kita nantinya. Pastikanlah terlebih dahulu bahwa kita terbebas dari penyakit dan dalam kondisi sehat.
Beberapa test kesehatan ini pun sangat penting dilakukan sebelum menikah, seperti Premarital Check Up. Cek kesehatan ini berguna untuk mengetahui apakah pasangan memiliki penyakit menular  seperti HIV/AIDS, rubella, dan Hepatitis B, dan penyakit kelainan genetik, seperti thalassemia, hemophillia, dll. Bukan bermaksud mencurigai pasangan, tapi kalau kita sayang anak kita nanti pastinya kita tidak ingin anak menderita penyakit yang diturunkan dari orangtuanya.



Tempat tinggal yang layak


Kalau sudah menikah pastinya kita ingin tinggal di tempat yang layak. Saya pun sama ketika sudah menikah nanti, saya tidak ingin menyusahkan orang tua dan tinggal di rumah sendiri.

"Tenang aja kan ada suami yang wajib menyediakan tempat tinggal."

Mungkin itu salah satu pendapat dari beberapa perempuan yang mengandalkan suami terutama masalah tempat tinggal. Tapi, perempuan yang cerdas pasti ingin ikut meringkankan beban suami dengan salah satu caranya menabung atau berinvestasi sejak dini supaya bisa membantu suami untuk mendapatkan rumah sendiri.

"Ngontrak pun tidak apa-apa yang penting nyaman."

Kalau kondisi masalah keuangan pasangan belum bisa memiliki rumah,  menyewa rumah pun memang tidak jadi masalah. Namun, kalau kita sudah persiapkan jauh-jauh hari untuk memiliki tempat tinggal sendiri mungkin hasilnya akan berbeda. Masa muda itu akan habis sekejap mata, masa-masa bebas yang kadang kita lupa bagaimana masa depan kita nanti. Meskipun belum punya pasangan atau calon suami, selagi masih muda harus pintar mengatur uang dan penghasilan supaya kita tidak menyusahkan anak-anak kita nanti.

Lalu tempat tinggal yang baik itu seperti apa?

Tidak harus mewah, rumah yang sederhana juga bisa jadi rumah idaman keluarga. Membeli rumah atau membangun rumah pasti butuh perencanaan yang matang. Kalau bisa rumah yang bisa bertahan jangka panjang dan tidak memerlukan banyak renovasi. Design rumah juga penting dan sekali lagi bukan mewah tapi pikirkanlah membangun rumah dengan desain atau item-item yang praktis. Misalnya: toilet yang tidak terlalu jauh dari kamar, dapur sehat, dan lantai yang tidak licin. Menurut saya syarat rumah idaman itu harus praktis, bersih, dan tidak perlu banyak renovasi. Dimana kalanya kita sudah tua, kita tidak lagi menyusahkan anak kita hanya untuk sekedar pergi ke toilet. 

Asuransi


Masa muda itu sangat singkat dan suatu hari nanti akan menemukan babak baru yaitu pernikahan. Setelah menikah, perjalanan baru pun dimulai tidak hanya soal tempat tinggal, tabungan masa depan, biaya pendidikan untuk anak, jaminan kesehatan anggota keluarga, dan lain-lain. Selagi masih mudah banyak cara untuk menyimpan penghasilan dan mengalokasikannya untuk jaminan keluarga kecil kita supaya tetap terlindungi. Kita bisa menggunakan asuransi untuk merenakan kehidupan yang lebih baik, baik jangka pendek maunpun asuransi jangka panjang. Ketika kita punya anak lagi sudah tidak pusing lagi mencari biaya pendidikan dan tidak perlu khawatir kalau suatu waktu anak kita sakit karena dengan asuransi kita merasa tenang dan terlindungi.



Pendidikan menjadi Orangtua yang baik


Setiap orangtua pasti ingin sesuatu yang terbaik untuk anak-anaknya dan yang terpikirkan oleh saya adalah saya belajar bagaimana cara mendidik anak dari orang tua saya sendiri.

"Mudah-mudahan anak saya tidak seperti saya saat dulu"

 "Mudah-mudahan anak saya bisa sekolah dengan tenang tanpa harus kesusahan seperti saya sekolah dulu."

Tanpa sadar kata-kata itu terucap saat mengenang masa-masa zaman dulu. Ya, dari situlah kita belajar dan menilai apa yang kurang dan apa yang baik saat kita masih dididik oleh orangtua. Saat kesadaran itu muncul, maka kita perlu belajar lebih banyak dan rajin membaca bagaimana menjadi orangtua yang baik. Karena pintar saja tidak cukup untuk menjadi orangtua yang baik.


Mungkin 4 hal ini yang masih jadi perjuangan saya selama belum menikah. Jika item ini belum lengkap dan jodoh udah di depan mata maka kita bisa lengkapinya saat perjalanan menuju pernikahan nanti. Apapun rencananya, apapun niatnya semua perempuan pasti akan berkata "Ini untuk anakku."
Ok, cukup sekian pembahasan kali ini dan semoga artikel ini bermanfaat. Amin.

5 komentar:

  1. Setelah jadi ortu dan sudah pernah ada di posisi anak maka aku melakukan hal-hal yang memposisikan diriku sendiri mba, jika aku digituin sbg anak aja ga enak maka tidak kulakukan dan sebaliknya..

    jadi ortu emang susah banget :( belajar terus dan terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya saya juga harus belajar dari mba herva nih.

      Hapus
  2. Tempat tinggal yang layak itu susah-susah gampang dapatnya. Yang ga kalah penting lingkungan orang-orang di sekitar juga.. kalau cara bicaranya kasar bisa jadi anaknya Keikut-_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banget point tambahan dari annafi. aku juga setuju. lingkungan juga bawa pengaruh besar ya

      Hapus
  3. wah memberi pencerahan buat saya yang masih single,,thanks mbak :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.