Tradisi Makan Botram Ala Orang Sunda

17.47
Masyarakat Indonesia memiliki berbagai tradisi makan bersama yang selalu jadi populer. Setiap daerah memiliki tradisi dan budaya masing-masing dan tentunya memiliki tujuan dan keuninikan tersendiri. Tradisi makan bersama adalah tradisi makan menggunakan tangan yang dilakukan dengan duduk berlesehan dengan anggota keluarga ataupun kerabat. Salah satu contohnya adalah tradisi makan nasi tumpeng atau nasi kuning yang berbentuk kerucut dan disajikan untuk makan bersama dalam suatu perayaan atau upacara khusus. Jangan salah, nasi tumpeng ini sakral dan jadi ikon populer dalam tradisi makan bersama. 

Makan bersama dengan cara duduk lesehan ini ada banyak dilakukan di berbagai daerah. Kalau di Jawa Barat, disebut dengan Bancakan dengan menaruh nasi dan lauk pauk di atas daun pisang. Sedangkan di Bali disebut dengan Megibung dan di Selawesi ada juga yang disebut Manre Sapperg. Meskipun banyaknya makanan cepat saji dan gaya hidup masyarakat yang semakin modern, tradisi makan bersama ini masih tetap menjadi moment yang paling menyenangkan dan masih dilakukan untuk tujuan tertentu. Misalnya, untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk menjalin tali silaturahmi antar teman dan kerabat, sebagai tanda peresmian atau penyambutan upacara tertentu. Dalam agama islam juga terdapat istilah lain, yaitu Munggahan yakni tradisi makan bersama yang dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebagai orang sunda, saya merasa bangga karena sampai sekarang di daerah Kuningan-Jawa Barat juga masih menjaga budaya makan bersama ala orang sunda yang disebut dengan Botram. Setiap kali ada perayaan ulang tahun desa, semua warga kompak melakukan makan bersama di atas daun pisang yang dijajarkan disebuah lapangan Balai Desa. Selain itu, botram juga dilakukan saat buka puasa bersama, Lebaran, bahkan diadakan di keluarga yang akan melangsungkan upacara pernikahan. 

Biasanya, Ibu PKK atau ibu dan anak perempuan menyiapkan nasi dan aneka lauk pauk yang sebenarnya tidak perlu mahal dan terbilang cukup sederhana, seperti: menu sambal, nasi liwet, lalapan, ikan asin, goreng ayam, sayur asem, tempe dan tahu goreng, ikan bakar, oreg tempe, dan menu sederhana lainnya. Sedangkan Bapak-bapak membantu mempersiapkan alas untuk duduk lesehan dan mempersiapkan daun pisang yang diambil dari kebun.

Ngomongin soal lalapan, ternyata masih banyak yang belum tahu manfaat lalapan khas sunda. Lalapan adalah salah satu jenis sayuran mentah yang sering dilahap sebagai pendamping lauk pauk. Lalapan ini salah satu budaya orang Sunda yang sudah ada sejak tahun 1930, loh. Lalapan sunda diantaranya: terong muda, kemangi, selada, timun, tomat, leunca, kenikir, kacang panjang, pete, jengkol muda, dan masih banyak lagi. Terkadang aneka lalapan ditumpuk dalam satu keranjang dan selalu disajikan saat akan makan. Salah satu manfaat orang sunda yang melahap lalapan ini yaitu bisa terhindar dari resiko penyakit jantung dan diabetes. Selain itu, dengan mengonsumsi sayuran lalapan ini kita juga bisa awet muda dan mendapatkan asupan sayur yang lebih banyak daripada mengonsumsi sayuran yang dimasak. Syaratnya mengonsumsi lalapan yang sudah dicuci bersih dan masih segar dan biasanya ditambahkan rebusan daun pepaya atau daun singkong. Sangat sederhana tapi manfaatnya luar biasa, ya.

Baca juga: Camping Seru dan Jembatan Gantung Terpanjang di Asia


Menu sambal khas orang sunda, yaitu sambal terasi yang diulek dengan bumbu yang digoreng, dikukus, ataupun mentah. Biasanya orang kampung seperti saya suka menanam sayuran dikebun kecil belakang rumah, seperti sereh, singkong, cabai, jahe, kunyit, pohon lada, dan masih banyak lagi. Jadi kalau mau masak, kita bisa cari bahan bumbu-bumbu untuk sambal itu di pekarangan rumah. Ibu saya suka sekali membuat sambel terasi yang digoreng ataupun dikukus. Kalau bumbunya mentah terus diulek pasti rasanya jauh lebih pedas. Sedangkan kalau cabai, bawang, terasi, tomatnya digoreng dengan sedikit minyak pasti aromanya sangat kuat dan lezat. Setelah itu diletakan di atas cobek dan diberi isiran gula merah dan garam lalu diulek sampai semuanya tercampur rata. Sentuhan terakhir bisa diberikan tetesan air limau. Selain sambal, cara menyajikan nasinya pun masih dengan cara primitif yaitu dengan cara mengukus di atas tungku kayu bakar. Istilah bahasa sundanya adalah Aseupan. Setelah matang, nasi masih harus di dinginkan dengan kipas dan terus diaduk supaya pulen. Pokoknya cara masaknya ribet deh gak kayak masak pake rice cooker. Tapi cara inilah yang bikin enak dan pastinya ngiler dan gak tahan pengen cepet makan.

Setelah semuanya lengkap, daun pisang yang sudah dibersihkan dan dikeringkan mulai digelar dilesehan dengan bentuk memanjang. Nasi, lauk pauk, sambal, dan lalapan semuanya diletakkan di atas daun pisang dan semua kerabat keluarga atau teman berkumpul dengan posisi berhadap-hadapan. Pastikan cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan Botram. Kalau dalam etika makan itu tidak boleh mengobrol saat makan, tapi kalau Botram atau tradisi makan bersama ini wajib banget saling bercengkrama satu sama lain.

Tujuan tradisi Botram ini, sebagai tanda syukur kita kepada Tuhan atas nikmat dan karunia-Nya. Selain itu, saling memperkuat tali silaturahmi dan mendekatkan hubungan persaudaraan antar sesama. Masih satu bulan lagi menyambut bulan suci Ramadhan dan rasanya sudah tidak sabar botraman lagi bersama keluarga. Kalau di Daerahmu ada tradisi makan bersama yang seperti apa? Coba ceritakan di kolom komentar, ya.

Baca juga: Oishii! Japanese Curry Rice Recipe dengan Bumbu House Kari Ala Jepang

12 komentar:

  1. Aku belum pernah ikutan makan ramai-ramai dengan alas makanannya daun pisang kayak gini lho, Dar.. biasanya lesehan dan makan berjamaah aja 😄

    Pingin nyoba kalau ada yg seperti ini di acara 1 RT hehe

    BalasHapus
  2. Masyaallah jadi inget kampung dan jaman saya kecil. Ketemu sodara2 langsung gelar ngeliwet. Lama di betawi menikah sama orang sunda setiap kumpul2 langsung liwetan haha ...
    Padahal menunya sederhana tahu tempe, jengkol, sambal, teri, tapi nikmatnya melebih makanan korea #lebay deh hihi

    BalasHapus
  3. seru ya kalo botram itu,biasanya aku botran bareng emak2 sekolah,menu nya sama nihh ada jengkol juga coel sambel makan bareng nasi liwet mantap...jadi lapeerr nih hahahahahah

    BalasHapus
  4. Tradisi ini sekarang sudah jarang di kampungku mbak. Padahal kalau makan bareng-bareng apapun jadi nikmat

    BalasHapus
  5. Wah asyiknya makan rame-rame. Kalo aku ikut bisa habis banyak nih..hihi...seru sih! Semoga tradisi terus terjaga ya teh...😊

    BalasHapus
  6. Kalo makan rame rame beralaskan daun pisang ini aku taunya liwetan namanya. Kalo botram taunya macam potluck gitu. Hihi. Baru tau kalo Botram sebutan dari Sunda ya..

    BalasHapus
  7. Wahhh aku sering nih makan bareng beginian, nasi kuning yg ditaruh daun pisang pernah, bahkan nasi pecel pun juga pernah, sebenarnya makan nya sih biasa yg bikin ngangeni itu momen rame rame nya

    BalasHapus
  8. Waktu kuliah di Unpad, sering banget nge-botram. Setelah pindah ke Jakarta pernah sekali di kantor hahaha emang seru sih ya makan rame-rame ala botram

    BalasHapus
  9. aduhhhhhhh konten ini mengandung penggugah selera makan... Jadi lafarrrrr nih liatnya apalagi sambelnya ya ampunnn

    BalasHapus
  10. Baru tau ini aku kak setelah baca artikel dr kakak jd tambah pengetahuan deh.. Bagus bgt kak artikelny

    BalasHapus
  11. Botram ala aku jugaaaa heheh ,,yuk botram teh

    BalasHapus
  12. Aku baru tau di sunda disebutnya botram ya. Kalau di sini disebutnya bacakan. Emang sih makan bareng2 gini lebih seru dan pastinya lebih terasa nikmat.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.