Advertisement

Main Ad

Lindungi Hutan Indonesia dari Ancaman KARHUTLA saat Pandemi

Mengingat Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati pada tanggal 5 Juni lalu, membuat kita semakin terdorong untuk terus peduli dan membangun kesadaran bahwa betapa pentingnya menjaga planet bumi ini. Tanpa kita sadari, banyak dari perilaku dan kebiasaan kita yang merusak lingkungan, seperti kebiasaan merokok dan membuang sampah sembarangan. Penebangan liar dan penambangan ilegal masih terus terjadi sehingga tak heran di tahun ini pun masih terjadi banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Mungkin kalian masih ingat dengan Bencana Kabut Asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau, Sumatera, dan Kalimantan yang menggemparkan media tahun lalu. Bagaimana tidak sedih, hutan yang jadi rumah kita dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak hanya masyarakat setempat saja yang menanggung akibatnya, kebakaran yang semakin meluas itu telah membakar habis lahan lebih dari 300.000 hektar di tahun lalu. Kabut asap pun mencemari beberapa daerah seperti,  Pekanbaru, Jambi, Palembang, Banjarmasin, Palangkaraya, hingga memasuki Malaysia. Selain itu, jarak pandang terganggu sehingga sulit melakukan aktivitas di luar rumah. Musibah ini seperti mengulang kembali memori KARHUTLA di tahun 2015 lalu.

Lindungi Hutan Indonesia dari Ancaman KARHUTLA

PENYEBAB KARHUTLA

Menurut data dari situs SiPongi KLHK, sudah ada 253 hektar lahan yang terbakar di tahun ini. Kebakaran hutan terjadi disebabkan oleh dua faktor, yaitu:

1. Faktor Alam

Penyebab kebakaran hutan yang dipicu oleh sambaran petir, lahar gunung api, percikan api dari gesekan pepohonan, dan kekeringan akibat musim kemarau yang bekepanjangan. Namun, kebakaran yang dipicu oleh petir atau percikan api ini jarang terjadi terutama di hutan hujan.

2. Faktor Perbuatan Manusia

Penyebab kebakaran hutan karena kecerobahan manusia, seperti: putung rokok yang dibuang sembarangan di hutan, api unggun yang lupa dimatikan, pembakaran sampah, dan lainnya. Selain perbuatan manusia yang tidak sengaja ini, kebakaran hutan bisa terjadi karena perbuatan yang disengaja dengan tujuan membuka lahan baru untuk pertanian yang dilakukan oleh pihak tertentu. Hal ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk membuka bisnis pertanian yang menguntungkan seperti, kelapa sawit dan kebun karet. 

Kebakaran lahan gambut selalu terjadi pada saat kemarau padahal gambut menyerap banyak air dan mampu bertahan pada musim kemarau. Penyebabnya diduga bahwa lahan gambut sengaja dikeringkan lalu dibakar dengan cara memantikan api sehingga terjadi kebakaran hutan. Kebakaran lahan gambut yang terjadi di Riau dan Kalimantan juga disebabkan oleh ulah manusia. BNPB mengerahkan lebih dari 40 heli dan personilnya untuk melakukan waterbombing untuk padamkan api. Selain itu, hujan buatanpun dibuat dengan menggunakan lebih dari ratusan ribu kilogram garam.


Pengaruh Kebakaran Hutan dari Kualitas Udara

Lindungi Hutan Indonesia dari Ancaman KARHUTLA saat Pandemi

Hutan ibarat payung yang melindungi seluruh ekosistem di dalamnya. Jika kebakaran hutan terus terjadi, habitat hewan dan populasi tumbuhan akan semakin berkurang. Hutan menjadi gundul dan akan menimbulkan bencana longsor dan banjir. Tidak ada lagi pepohonan sebagai tempat menampung cadangan air sehingga berkurangnya sumber air bersih dan terjadinya bencana kekeringan. Selain itu, asap yang timbul akan meningkatkan gas rumah kaca sehingga suhu bumi semakin panas.

Kebakaran hutan juga berdampak bagi kesehatan manusia. Kabut asap yang timbul akan semakin menyebar ke berbagai daerah sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Asap kebakaran yang mengandung gas berbahaya seperti, furan dan hidrogen sianida ini membuat kandungan oksigen berkurang sehingga kualitas udara menurun dan sangat berpengaruh pada kesehatan. Dampak kabut asap bagi kesehatan, diantaranya:

1. Iritasi mata, hidung, dan saluran pernapasan.
2. Iritasi kulit, seperti gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya.
3. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
4. Serangan asma meningkat dan semakin parahnya penyakit paru-paru.
5. Menimbulkan penyakit jantung.
6. Merusak janin bagi ibu hamil.

Jika kebakaran terus berkelanjutan, dampak bagi kesehatan akan semakin parah terutama bagi orang yang memiliki riwayat penyakit kronis. Efek jangka panjang dari kabut asap ini juga bisa menimbulkan kematian. 


Ancaman Kebakaran Hutan saat Pandemi

Kebakaran hutan dan lahan dimusim kemarau tahun ini masih menjadi momok menakutkan. Ditambah lagi dengan adanya wabah virus Corona yang masih terus bertambah sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat, khususnya Provinsi Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. Berdasarkan situs SIPONGI, terdapat lebih dari 700 titik api yang rawan terjadi kebakaran di Provinsi Riau. BMKG juga menyatakan bahwa Riau berpotensi Karhutla karena curah hujan yang relatif rendah dan waspada di musim kemarau yang panjang hingga Agustus nanti.
Lindungi Hutan Indonesia dari Ancaman KARHUTLA saat Pandemi

Melihat data terbaru covid-19 di Riau sendiri, sudah ada 134 orang yang tergolong positif dan 8 orang yang meninggal dunia karena corona. Virus corona yang menyerang sistem pernapasan semakin memperburuk kesehatan bagi masyarakat yang terkena dampak karhutla. Upaya pemerintah untuk menanggulangi karhutla pun terganggu dengan adanya PSBB di daerah rawan karhutla. Selain itu, kebutuhan medis dan alat kesehatan pun semakin meningkat disaat pandemi ini.

Masyarakat perlu mengubah pola hidup supaya bisa terlindungi dari penyebaran virus corona di saat karhutla, seperti:
  1. Mengecek kualitas udara baik melalui berita atau dengan melihat jarak pandang
  2. Selalu memakai masker
  3. Perhitungkan urusan keluar rumah
  4. Pertimbangkan jarak dan waktu tempuh
  5. Segera pulang ke rumah setelah urusan selesai
  6. Pengecekan kesehatan secara berkala
Selain itu, orang tua juga harus lebih memantau anak-anaknya karena usia anak justru termasuk rentan terkena virus dan gangguan pernapasan. Seperti karhutla tahun lalu dimana anak bayi meninggal dan banyak anak mengeluh sulit bernapas sehingga harus memakai alat bantu pernapasan. Paparan asap juga mengganggu perkembangan otak sehingga orang tua harus lebih waspada. Usahakan anak tetap terlindungi dan tetap bisa belajar di rumah.


UPAYA PEMERINTAH UNTUK PENCEGAHAN KARHUTLA DI TENGAH PANDEMI

Pemerintah selalu menghimbau bahwa pelayanan publik harus tetap berjalan meski biaya penanganan karhutla terbatas. Tim KLHK menetapkan target yang harus dicapai untuk pencegahan karhutla dengan tetap menjaga protokol kesehatan di tengah pandemi. KLHK tentunya tidak bekerja sendiri, seluruh SATGAS, stakeholder, dan masyarakat sekitar juga ikut bekerja sama untuk mencegah karhutla. Kegiatan pencegahan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Mengadakan patroli terpadu dan patroli mandiri di titik hotspot daerah rawan kebakaran serta melakukan pemadaman dini
  2. Teknologi modifikasi cuaca dalam menghadapi musim kemarau dan pengelolaan ekosistem gambut.
  3. Kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pencegahan karhutla.
  4. Kegiatan sosial dan bantuan alat kesehatan.
  5. Penegakan Hukum bagi pembakar hutan. 
Di beberapa lokasi rawan karhutla contohnya di Pekanbaru juga tersedia posko kesehatan khusus untuk pasien yang mengalami gangguan pernapasan dan ruangan kedap asap. Disini selain menerima layanan kesehatan, pasien juga bisa diberikan bantuan oksigen bagi mereka yang sangat membutuhkannya.

UPAYA KURANGI DAMPAK KERUSAKAN LINGKUNGAN

Eksploitasi yang terus menerus dilakukan telah menghancurkan sebagian dari Hutan di Indonesia. Kita harus sadar bahwa banjir, longsor, dan kekeringan merupakan dampak dari kerusakan lingkungan akibat dari ulah manusia itu sendiri. Melindungi hutan dan ekosistem di dalamnya bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi ini merupakan tanggung jawab kita sebagai manusia yang membutuhkan keberadaan hutan untuk melanjutkan kehidupan.

Selain membantu mengawasi adanya eksploitasi hutan ilegal, kita perlu mengubah kebiasaan hidup di rumah yang bisa mengurangi dampak kerusakan lingkungan, diantaranya:
  1. Menghemat air dan menampung air di rumah.
  2. Menghemat energi dan matikan listrik jika tidak dipakai.
  3. Jangan merokok.
  4. Membuang sampah pada tempatnya dan berusaha memilah sampah.
  5. Kurangi sampah plastik yang merusak lingkungan.
  6. Gunakanlah produk reusable, seperti botol minum, tote bag, kotak bekal, masker kain, dan produk skincare ramah lingkungan.
  7. Berkebun di rumah dan membuat kompos buatan sendiri dari sampah dapur.
  8. Kurangi makan daging hewan. Kotoran yang dihasilkan hewan menyumbang gas metana yang menyebabkan pemanasan global.
  9. Budayakan berjalan kaki atau gunakan sepeda jika berpergian jarak dekat. Jangan selalu menggunakan kendaraan karena akan meningkatkan polusi udara. Gunakanlah kendaraan hanya untuk berpergian jarak jauh.
  10. Jangan membeli produk yang terbuat dari kulit satwa liar.
  11. Membeli produk daur ulang yang ramah lingkungan, seperti kertas daur ulang, kerajinan tangan dari sampah plastik, dan tas dari kain bekas.
  12. Mengajari teman dan anak-anak kita mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan.
  13. Bergabung dengan komunitas peduli lingkungan dan hutan di daerah setempat maupun di sosial media dan sebarkan informasi dan mengajak orang untuk peduli terhadap hutan dan lingkungan.

Lindungi Hutan Indonesia dari Ancaman KARHUTLA saat Pandemi

Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya yang bisa kita manfaatkan terutama hasil alamnya yang melimpah. Alam mencukupi semua kebutuhan manusia, seperti halnya hutan yang menjaga kita dari berbagai bencana. Namun, keserakahan manusia membuat alam menjadi rusak. Padahal kita tahu, menghancurkan alam berarti menghancurkan diri sendiri. Saya bersyukur masih bisa tumbuh dewasa dan masih bisa melihat keindahan hutan yang hijau. Saya juga bersyukur karena saat ini saya tidak tumbuh di daerah gurun yang kering. 

Semoga pandemi juga secepatnya berakhir sehingga tidak menghalangi para petugas yang melakukan partoli dan pemadaman api. Mari kita bersama-sama dukung upaya pemerintah dan membangun kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan mulai dengan tindakan kecil. Tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan lingkungan kita dari bencana. Selamatkan hutan kita dari keserakahan manusia dengan mulai dari menanam satu pohon untuk selamatkan ribuan kehidupan.

Saya sudah berbagi pengalaman soal "Ancaman Karhutla". Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

Referensi:

Post a comment

12 Comments

  1. Kalau ngomongin kebakaran hutan, aku langsung merasa sesak. Ingat tahun lalu, Palembang diselimuti asap berminggu2. Mau lari, mau ngungsi gak bisa. Tersiksa banget. Semoga ke depannya banyak yang lebih peduli.

    ReplyDelete
  2. Tulisannya bagus mom menjadi ingatan untuk banyak orang bahwa kita harus menjaga hutan karena jantung bumi ada disana

    ReplyDelete
  3. Ga kebayang deh kalau Karhutla di masa pandemi seperti sekarang, saya tinggal di Kalimantan dan tiap tahun menghirup udara berasap 😔 semoga tahun ini tidak terjadi.

    ReplyDelete
  4. Miris banget sama upaya pembakaran hutan demi membuka lahan. Aku juga yakin sih, faktor alam itu ga begitu menyumbang masalah kebakaran hutan, yang ada justru manusia2nya yang jadi penyebab.
    Semoga ga ada lagi kasus kebakaran hutan karena ulah manusia.

    ReplyDelete
  5. saya pernah tinggal di Kalimantan selama 15thn. Tiap tahun pasti ada musim asap akibat karhutla. Kalaunpenyebabnya krn alam yaudah lah ya gimana lagi, tapi kalo krn manusia, kesal sekali rasanya. Bayi, anak2, dan orang2 tua sudah terkena ISPA

    ReplyDelete
  6. Sebab manusia itu lebih banyak ambil peran ya kak. Di kampungku udah sangat kekeringan banget. Bahkan terkenal dengan hutan kapur lho kak.

    ReplyDelete
  7. Inspiratif banget artikelnya mba, memang kita juga harus care juga ya sama alam supaya bumi ini tetap fresh

    ReplyDelete
  8. sangat inspiratif nih artikelnya aku suka, makasih udah nulis ini kak :)

    ReplyDelete
  9. Ngeri juga ini. Kebakaran hutan dan covid 19 sama2 menyerang pernafasan, kalau ga ada langkah antisipasi bisa makin bahaya..
    Terimakasih ya sdh sharing

    ReplyDelete
  10. Tragedi kebakaran hutan tahun lalu emang bikin sedih banget ya, banyak kerusakan dan penyakit yg ditimbulkan. Apalagi di tengah pandemi gini, pasti makin berlipat2 resiko penyakitnya terutama di saluran pernapasan. Semoga bumi ini lekas membaik ya.

    ReplyDelete
  11. Kmrn aku chat sama teman yang daerahnya sering terdampak kebakaran hutan. Dia bilang...klo hujan ,.banjir...karena hutan makin lama makin habis. Klo musim kemarau, kena asap...nggak enak banget yaa

    ReplyDelete
  12. Ikut geram kalau tau ada info kebakaran hutan.
    Semestinya pelakunya dihukum seberat-beratnya agar jadi contoh yang baik buat orang lain.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog ini.